Kesiapan seorang olahragawan dalam menghadapi turnamen besar tidak hanya diukur dari seberapa banyak beban yang ia angkat atau seberapa cepat ia berlari dalam sesi latihan tertutup. Bapomi Batanghari menekankan bahwa terdapat Manfaat Simulasi Pertandingan yang sangat signifikan untuk membangun suasana kompetisi yang nyata sebelum hari perlombaan tiba. Selain melatih taktik, sesi simulasi ini bertujuan untuk mengasah keberanian mental agar pemain tidak merasa canggung saat berada di bawah tekanan publik. Penguatan karakter ini juga memiliki korelasi positif terhadap masa depan para pemain, di mana terdapat hubungan erat antara kesuksesan kerja dengan disiplin serta kerja keras yang selama ini mereka pupuk di lapangan hijau. Melalui pendekatan ini, setiap atlet mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi individu yang tangguh dan siap bersaing di level yang lebih tinggi.
Simulasi pertandingan atau sering disebut sebagai try-out internal berfungsi untuk menjembatani kesenjangan antara latihan rutin dengan atmosfer kompetisi yang sesungguhnya. Dalam sesi latihan biasa, atlet cenderung merasa nyaman karena tidak ada konsekuensi langsung dari kesalahan yang dilakukan. Namun, dalam simulasi yang dirancang mirip dengan pertandingan resmi, setiap poin dan setiap gerakan diawasi oleh juri atau pelatih yang memberikan penilaian ketat. Hal ini memaksa mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman mereka dan belajar bagaimana mengelola rasa gugup. Keberanian untuk mengambil risiko dalam strategi hanya bisa muncul jika atlet sudah sering dihadapkan pada situasi yang menyerupai medan tempur aslinya.
Bagi Bapomi Batanghari, simulasi juga menjadi sarana untuk mengevaluasi efektivitas teknik yang telah dipelajari selama berbulan-bulan. Sering kali, teknik yang terlihat sempurna saat latihan tanpa lawan menjadi tidak efektif ketika menghadapi tekanan dari kompetitor yang agresif. Dengan melakukan simulasi secara rutin, atlet dapat menemukan celah dalam pertahanan mereka sendiri dan memperbaikinya sebelum terlambat. Proses ini membangun kepercayaan diri yang berbasis pada data dan fakta lapangan, bukan sekadar motivasi kosong. Ketika seorang atlet tahu bahwa ia telah berhasil melewati berbagai skenario sulit dalam simulasi, ia akan memasuki arena pertandingan dengan kepala tegak dan mental yang lebih stabil.