Potensi atlet mahasiswa di Kabupaten Batanghari sangat besar, namun kemajuan mereka terhambat. Bukan oleh kurangnya bakat, melainkan oleh masalah di dalam tubuh organisasi. Polemik internal di Bapomi (Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia) Batanghari menjadi benang kusut yang menghambat pembinaan dan prestasi.

Konflik antara para pengurus menjadi penghalang utama. Ketidaksepahaman dalam visi dan misi membuat program-program strategis tidak berjalan. Alih-alih fokus pada pembinaan, energi terkuras untuk menyelesaikan perselisihan. Hal ini berdampak langsung pada kemajuan atlet.

Akibatnya, dana yang seharusnya digunakan untuk fasilitas, pelatihan, dan keikutsertaan kompetisi tidak terarah. Atlet kesulitan mendapatkan sarana latihan yang layak, mengikuti try-out, atau berpartisipasi dalam kejuaraan di luar daerah. Ini membatasi perkembangan mereka.

Jadwal latihan pun menjadi tidak konsisten. Pelatih dan atlet bingung, tidak adanya arahan yang jelas. Kondisi ini menurunkan motivasi. Padahal, konsistensi adalah kunci dalam membentuk karakter dan kemampuan atlet. Tanpa itu, potensi terbaik mereka tidak akan pernah terwujud.

Selain itu, komunikasi antara petinggi dan pelatih juga terputus. Para pelatih merasa tidak didengar. Ide-ide dan masukan dari lapangan seringkali diabaikan. Ini menciptakan jurang yang lebar dan menghambat sinergi. Tanpa komunikasi yang baik, pembinaan menjadi berjalan di tempat.

Kurangnya transparansi juga memperburuk keadaan. Keputusan-keputusan strategis seringkali diambil tanpa melibatkan semua pihak terkait. Hal ini menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayaan. Atmosfer kerja yang tidak sehat ini sangat merugikan bagi semua yang terlibat.

Dampaknya terasa hingga ke tingkat paling bawah. Para atlet dan orang tua mereka merasa cemas dan kecewa. Mereka melihat bagaimana potensi anak-anak mereka tidak berkembang maksimal. Padahal, mereka telah berkorban banyak, baik waktu maupun tenaga, untuk latihan.

Polemik internal ini juga menghambat munculnya talenta-talenta baru. Calon atlet yang melihat kondisi ini menjadi ragu. Mereka khawatir jika mereka bergabung, mereka tidak akan mendapatkan pembinaan yang layak. Ini adalah kerugian besar bagi masa depan olahraga di Batanghari.

Sudah saatnya para petinggi menyingkirkan ego. Kepentingan atlet harus diletakkan di atas segalanya. Sinergi dan kolaborasi adalah satu-satunya jalan. Dengan menyelesaikan polemik internal, pembinaan dapat kembali berjalan lancar.