Secara anatomis, genggaman yang stabil pada busur memerlukan aktivasi dari otot-otot lengan bawah dan tendon di telapak tangan. Bagi atlet di Batanghari, latihan ini dilakukan secara berulang untuk membangun daya tahan isometrik. Kekuatan yang dihasilkan bukan sekadar kekuatan remasan, melainkan kontrol terhadap tekanan yang konstan. Proses menahan beban tarikan busur (draw weight) memaksa otak untuk mengirimkan sinyal saraf yang sangat presisi agar otot tidak mengalami tremor. Latihan Memanah yang konsisten ini secara bertahap memperkuat jalur saraf antara otak dan tangan, menciptakan koordinasi motorik yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan individu yang tidak aktif berolahraga.
Olahraga memanah bukan sekadar tentang membidik sasaran dari jarak jauh, melainkan sebuah simfoni koordinasi antara otot, napas, dan sistem saraf. Di wilayah Batanghari, tradisi memanah mulai kembali digemari oleh kalangan mahasiswa sebagai bagian dari pembinaan atlet yang komprehensif. Salah satu aspek teknis yang paling krusial dalam olahraga ini adalah Kekuatan Genggaman. Meskipun terlihat statis, genggaman tangan pada busur dan tarikan jari pada tali busur melibatkan mekanisme fisiologis yang sangat kompleks, yang memberikan dampak luar biasa pada pengembangan sistem syaraf motorik halus maupun kasar pada para atlet mahasiswa tersebut.
Peningkatan sistem Syaraf Motorik ini memiliki manfaat yang sangat luas bagi mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mendukung aktivitas akademik. Kemampuan motorik halus yang terasah melalui memanah sangat membantu dalam tugas-tugas yang membutuhkan ketelitian tangan, seperti menggambar teknis, melakukan praktikum di laboratorium, atau bahkan mengetik dalam durasi yang lama tanpa mengalami kelelahan saraf. Mahasiswa di Batanghari melaporkan bahwa setelah rutin berlatih memanah, mereka memiliki kontrol diri yang lebih baik dan ketenangan tangan yang meningkat signifikan, yang merupakan hasil dari sinkronisasi saraf pusat dan otot tepi yang semakin efisien.
Selain itu, olahraga memanah melatih konsentrasi spasial-temporal yang dalam. Saat seorang pemanah menarik busur, mereka harus memproses informasi jarak, arah angin, dan posisi tubuh secara simultan. Ini adalah latihan kognitif yang sangat berat bagi sistem saraf. Di Batanghari, para instruktur menekankan bahwa keberhasilan melepaskan anak panah tepat sasaran adalah bukti dari kemampuan saraf dalam mengeksekusi perintah pada momen yang paling tepat. Genggaman yang kuat namun rileks menjadi kunci agar pelepasan tali busur tidak terganggu oleh gerakan mikro yang tidak perlu. Inilah mengapa memanah sering disebut sebagai meditasi dalam gerakan.