Kabupaten Batanghari di Provinsi Jambi dianugerahi dengan aliran sungai terpanjang di Sumatera yang telah menjadi saksi bisu perkembangan peradaban masyarakatnya selama berabad-abad. Sungai Batanghari bukan hanya sekadar sumber air, melainkan pusat kebudayaan dan sumber protein utama bagi warga di sepanjang alirannya. Di tengah arus modernisasi yang membawa berbagai alat tangkap instan dan terkadang merusak ekosistem, terdapat kebutuhan mendesak untuk menoleh kembali pada kearifan masa lalu. Melalui sebuah Loka Karya Jaring Ikan yang unik, upaya pelestarian teknik penangkapan ikan kuno mulai digalakkan sebagai bagian dari penguatan identitas lokal dan upaya konservasi air yang berkelanjutan.
Kegiatan yang memfokuskan pada pembuatan dan penggunaan Jaring Ikan yang ramah lingkungan ini memberikan perspektif baru bagi para peserta mengenai hubungan antara manusia dan alam. Teknik merajut jaring secara manual bukan hanya soal menciptakan alat kerja, melainkan sebuah latihan kesabaran, presisi, dan konsentrasi. Dalam konteks motorik, gerakan tangan yang berulang dan detail dalam mengikat simpul merupakan bentuk sinkronisasi saraf yang sangat baik. Pelatihan ini mengajak generasi muda untuk memahami bahwa teknologi Tradisional memiliki keunggulan yang tidak dimiliki alat modern, yaitu selektivitas dalam menangkap ikan sehingga bibit-bibit ikan kecil tidak ikut terjaring dan ekosistem sungai tetap terjaga dengan baik.
Bagi organisasi seperti BAPOMI, kegiatan ini merupakan sebuah terobosan untuk menunjukkan bahwa olahraga dan aktivitas kemahasiswaan tidak harus selalu terbatas pada lapangan semen atau gedung olahraga tertutup. Ada Sisi Lain dari pembinaan mahasiswa yang berkaitan erat dengan pengabdian masyarakat dan pelestarian nilai-nilai sosiokultural. Mahasiswa diajak untuk keluar dari rutinitas akademik dan berinteraksi langsung dengan para pengrajin jaring senior di pedesaan. Di sini, terjadi pertukaran ilmu yang sangat berharga; mahasiswa membawa metodologi berpikir sistematis dan kemampuan dokumentasi, sementara para nelayan memberikan kearifan praktis yang telah teruji oleh waktu. Hubungan ini menciptakan sebuah harmoni yang memperkuat kepedulian mahasiswa terhadap kedaulatan pangan dan kelestarian sungai.
Keberadaan Batanghari sebagai identitas geografis memberikan tanggung jawab moral bagi para pemuda untuk menjaga kualitas airnya. Melalui workshop ini, peserta juga diberikan edukasi mengenai dampak limbah terhadap populasi ikan lokal. Penggunaan jaring tradisional yang terbuat dari bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan menjadi solusi nyata untuk mengurangi sampah mikroplastik yang sering dihasilkan oleh jaring sintetis murah. Harapannya, melalui konsistensi dalam mengangkat tema-tema kearifan lokal, citra organisasi mahasiswa akan semakin dekat dengan realitas kehidupan rakyat. Generasi muda di Jambi diharapkan tidak hanya cerdas di kelas, tetapi juga mahir menghargai warisan nenek moyang mereka, menjadikannya modal sosial yang kuat untuk membangun daerah yang modern namun tetap berakar pada budaya bahari yang tangguh.