Mendekati hari raya Idulfitri, aroma kue kering yang sedang dipanggang biasanya mulai tercium dari dapur-dapur rumah. Namun, bagi sebagian warga yang memiliki keterbatasan anggaran, membeli kue lebaran di toko dengan harga yang kian melambung sering kali menjadi beban tambahan yang cukup berat. Melihat fenomena ini, sekelompok mahasiswa dari jurusan tata boga dan kewirausahaan berinisiatif menggelar program pemberdayaan masyarakat melalui kursus singkat. Fokus utama kegiatan ini adalah membagikan cara buat kue lebaran yang ekonomis namun memiliki cita rasa dan tampilan yang premium.
Kegiatan yang dikemas dalam bentuk pelatihan gratis ini bertujuan untuk membekali warga, khususnya para ibu rumah tangga, dengan keterampilan teknis yang praktis. Mahasiswa menyadari bahwa keterampilan membuat penganan sendiri bukan hanya soal menghemat pengeluaran, tetapi juga tentang potensi kemandirian ekonomi. Dalam sesi pelatihan, mahasiswa membagikan resep-resep andalan seperti nastar, kastengel, dan putri salju dengan modifikasi bahan yang lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas rasa. Upaya mahasiswa dalam menyederhanakan teknik memasak yang rumit menjadi langkah-langkah mudah sangat diapresiasi oleh warga yang hadir.
Selama proses pelatihan, mahasiswa tidak hanya memberikan resep, tetapi juga mengajarkan trik-trik profesional dalam hal pengolahan adonan. Misalnya, bagaimana menjaga suhu mentega agar tekstur kue tetap renyah namun lembut saat digigit. Inisiatif ini adalah bentuk pengabdian untuk warga yang nyata, di mana ilmu pengetahuan di bangku kuliah diturunkan langsung ke dapur masyarakat. Peserta diajak untuk praktik langsung, mulai dari menimbang bahan hingga proses pengemasan di dalam toples agar terlihat cantik dan memiliki daya simpan yang lebih lama.
Aspek kewirausahaan juga menjadi materi tambahan yang sangat penting. Setelah memahami cara pembuatan, warga diajarkan bagaimana menghitung modal produksi dan menetapkan harga jual yang kompetitif. Mahasiswa mendorong warga agar tidak hanya membuat kue untuk konsumsi pribadi, tetapi juga berani menawarkan hasil karyanya kepada tetangga atau melalui media sosial. Dengan demikian, pelatihan ini bisa menjadi titik awal bagi munculnya UMKM baru di lingkungan tersebut. Semangat berbagi ilmu ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menjadi mesin penggerak kreativitas dan produktivitas di tingkat akar rumput.