Kabupaten Batanghari, Jambi, baru saja menggelar sebuah perhelatan besar yang menyatukan semangat kompetisi dengan nilai-nama luhur nenek moyang. Penyelenggaraan Festival Olahraga Tradisional tahun ini menjadi magnet bagi ribuan warga dan mahasiswa yang ingin menyaksikan kembali permainan rakyat yang kini mulai jarang ditemui di kota-kota besar. Bapomi setempat menyadari bahwa olahraga bukan hanya tentang prestasi di cabang modern, tetapi juga tentang bagaimana menjaga identitas bangsa agar tetap hidup di tengah gempuran modernisasi digital yang semakin masif.

Perhelatan di wilayah Batanghari ini mencakup berbagai cabang unik, mulai dari lari balok, egrang, hingga tarik tambang yang dilakukan di atas rakit bambu. Fokus utama dari kegiatan ini adalah untuk membangun kedekatan emosional antara generasi muda dengan akar budayanya. Para atlet mahasiswa yang biasanya berlatih di lapangan futsal atau basket, kini ditantang untuk menunjukkan ketangkasan mereka dalam permainan yang membutuhkan keseimbangan dan kerja sama tim yang sangat tradisional. Antusiasme yang tinggi menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal masih memiliki daya tarik yang kuat jika dikemas dengan cara yang menarik.

Langkah konkret untuk Melestarikan Budaya dilakukan dengan mengundang para sesepuh daerah sebagai juri dan mentor bagi para peserta. Mereka memberikan wawasan mengenai filosofi di balik setiap gerakan dalam olahraga tradisional tersebut. Misalnya, permainan egrang bukan sekadar berjalan di atas bambu tinggi, melainkan simbol keberanian untuk berdiri tegak di atas prinsip hidup yang benar meski pijakan terasa goyah. Melalui festival ini, pesan-pesan moral tersebut disampaikan secara halus namun mendalam kepada para peserta yang sebagian besar adalah kaum intelektual muda.

Selain aspek filosofis, festival ini juga menjadi ajang promosi Lokal yang sangat efektif bagi Kabupaten Batanghari. Banyak UMKM setempat yang ikut terbantu dengan ramainya kunjungan penonton dari luar daerah. Olahraga tradisional ternyata mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus pemersatu masyarakat. Bapomi berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremonial tahunan saja, tetapi bisa masuk ke dalam kurikulum pendidikan jasmani di kampus-kampus agar mahasiswa memiliki kebanggaan terhadap warisan asli daerahnya sendiri.