Salah satu mitos yang paling sering terdengar adalah konsep bahwa Anda dapat membakar lemak di bagian tubuh tertentu secara spesifik (spot reduction). Banyak orang percaya bahwa melakukan ratusan sit-up setiap hari akan secara otomatis menghilangkan lemak di perut. Namun, fakta ilmiah menunjukkan bahwa Seputar Olahraga tidak bekerja demikian. Lemak hilang dari tubuh secara sistemik melalui defisit kalori. Latihan perut akan memperkuat otot di bawah lemak, tetapi untuk memunculkan otot tersebut, Anda harus menurunkan kadar lemak tubuh secara keseluruhan melalui kombinasi latihan kardio, angkat beban, dan nutrisi yang terjaga.
Mitos lain yang sering menghantui para pemula adalah ungkapan “No Pain, No Gain” atau rasa sakit adalah indikator keberhasilan. Hal ini perlu dipahami dengan sangat hati-hati. Memang benar bahwa latihan yang efektif akan menimbulkan rasa pegal atau Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS), tetapi nyeri yang bersifat tajam atau menusuk adalah tanda bahwa ada sesuatu yang salah. Fakta yang Perlu Anda Ketahui adalah bahwa rasa sakit yang berlebihan justru merupakan sinyal dari tubuh bahwa terjadi cedera pada tendon, ligamen, atau otot. Memaksakan diri untuk terus berlatih di tengah rasa sakit yang tidak wajar bukan hanya tidak produktif, tetapi juga bisa mengakibatkan kerusakan permanen yang menghentikan karier olahraga Anda.
Selain itu, ada anggapan bahwa semakin banyak berkeringat berarti semakin banyak lemak yang terbakar. Ini adalah kesalahpahaman yang harus dikoreksi Sekarang. Keringat adalah cara tubuh untuk mendinginkan suhu inti, bukan indikator langsung dari jumlah kalori yang terbakar. Anda bisa berkeringat banyak karena cuaca panas atau mengenakan pakaian tebal saat berolahraga, tetapi hal itu tidak menjamin pembakaran lemak yang lebih efisien. Berat badan yang turun secara drastis setelah sesi latihan yang sangat berkeringat biasanya hanyalah berat air, yang akan kembali segera setelah Anda minum. Indikator latihan yang efektif adalah beban kerja fisik dan detak jantung yang dicapai, bukan jumlah tetesan keringat di lantai.
Ada juga mitos yang menyebutkan bahwa wanita yang melakukan angkat beban akan secara otomatis memiliki tubuh yang besar dan berotot seperti pria. Secara hormonal, wanita memiliki kadar testosteron yang jauh lebih rendah daripada pria, sehingga membangun massa otot yang masif membutuhkan usaha yang sangat ekstrem dan nutrisi yang sangat spesifik. Faktanya, latihan beban bagi wanita sangat bermanfaat untuk mengencangkan tubuh, meningkatkan metabolisme, dan mencegah pengeroposan tulang tanpa menghilangkan sisi femininitas mereka. Angkat beban justru akan membantu wanita mendapatkan bentuk tubuh yang lebih atletis dan sehat di jangka panjang.