Penyelenggaraan sebuah turnamen olahraga biasanya identik dengan penggunaan bahan-bahan logam atau plastik yang proses produksinya meninggalkan jejak karbon yang cukup besar. Namun, sebuah gebrakan hijau muncul dari Kabupaten Batanghari, di mana kreativitas mahasiswa berhasil mengubah cara pandang kita terhadap simbol kemenangan. Penggunaan medali ramah lingkungan kini menjadi standar baru dalam setiap kejuaraan yang diselenggarakan di wilayah ini. Inovasi ini muncul dari kesadaran kolektif para mahasiswa akan pentingnya menjaga ekosistem sungai dan hutan di Jambi, sekaligus membuktikan bahwa penghargaan bagi sang juara tidak harus merusak kelestarian alam demi sebuah gengsi semata.

Kehadiran inovasi unik ini terletak pada material dasar yang digunakan untuk membuat medali tersebut. Alih-alih menggunakan logam seperti perunggu atau kuningan yang sulit terurai, panitia memanfaatkan limbah kayu lokal yang telah diolah secara artistik atau menggunakan komposit bahan organik yang dapat didaur ulang. Tekstur kayu yang khas memberikan kesan eksklusif dan alami, yang tidak bisa ditemukan pada medali pabrikan massal. Di Batanghari, medali ini juga sering dikombinasikan dengan tali yang terbuat dari serat tanaman asli daerah, seperti serat nanas atau serat eceng gondok yang telah diproses menjadi benang kuat. Hal ini menciptakan nilai ekonomi sirkular karena melibatkan perajin lokal dalam proses produksinya.

Penerapan konsep ramah lingkungan ini dalam event BAPOMI Batanghari juga membawa pesan edukasi yang mendalam bagi para atlet dan penonton. Setiap medali yang dikalungkan menjadi simbol bahwa sang atlet tidak hanya berhasil menaklukkan lawan di lapangan, tetapi juga telah menjadi bagian dari gerakan penyelamatan bumi. Langkah ini sejalan dengan kampanye “Green Sports” yang sedang digalakkan secara global. Dengan mengurangi penggunaan bahan kimia dalam pelapisan medali, risiko pencemaran limbah industri dari bengkel-bengkel kerajinan dapat ditekan seminimal mungkin. Batanghari kini dikenal sebagai pelopor dalam penyelenggaraan ajang olahraga yang memiliki etika lingkungan yang sangat tinggi di tingkat provinsi.

Selain aspek material, proses distribusi medali ini juga dilakukan dengan cara yang sangat minimalis namun bermartabat. Kemasan medali tidak lagi menggunakan kotak plastik sekali pakai, melainkan menggunakan wadah berbahan bambu atau kertas daur ulang yang bisa digunakan kembali sebagai pajangan. Para atlet BAPOMI mengaku merasa lebih bangga memiliki medali yang memiliki cerita tentang pelestarian alam di dalamnya. Inisiatif ini juga berhasil memancing minat sponsor dari perusahaan-perusahaan yang memiliki komitmen pada keberlanjutan lingkungan (Sustainability). Hal ini membuktikan bahwa sebuah organisasi mahasiswa mampu melakukan lobi tingkat tinggi melalui gagasan kreatif yang orisinal dan solutif terhadap isu-isu lingkungan yang sedang menjadi perhatian dunia saat ini.